Selasa, 11 Februari 2025

Pada akhirnya "Hanya Aku"

dalam beberapa tahun belakang ini saya sangat sering merasakan capek,
Tetapi entah darimana rasa capek itu datang?
Saat rasa itu muncul, seakan-akan saya sedang menanggung beban yang berat.
Saya merasa tidak seorang pun yang mengerti tentang diriku.
Hanya aku sendiri yang mengerti.
Sesaat saya merasa bahwa Tuhan telah mengirimkan seorang sahabat/saudara yang bisa paham dengan apa yang kualami.
Namun semuanya sirna, justru dia bukanlah orang yang paham dengan apa yang kurasakan. 7 tahun lebih kami bersahabat.
Disaat rasa capek itu datang, ingin sekali aku teriak, menangis, tertawa, dan memukul diriku sendiri.
Namun yang terjadi aku dikatakan "gila", "orang kesurupan", "harus banyak istighfar".
Tuhan ingin rasanya aku mencaci maki orang itu. Disaat kondisiku sedang down, justru aku dihina.
Tuhan, 
Aku Capek.
Akhirnya mulai saat ini aku berpikir, "tidak perlu terbuka, simpan semua sendiri, jangan menaruh harapan pada orang lain, andalkan diri sendiri, tanggung semuanya sendiri, rasa "capek, bosan, lelah" simpan sendiri, jangan tunjukkan itu kepada orang lain, termasuk kedua orang tuamu. 
Mereka tidak perlu mengerti kondisi dirimu.
Dan "KAMU" tidak perlu berbagi dengan mereka.
STOP.
Jangan tunjukkan lagi!

Sabtu, 26 Juni 2021

Tradisi Hadiah di Akhir Semester

Tradisi?
Ya tradisi yang tercipta dari tahun ke tahun...

Huff sangat menyakitkan dan benar² menyakitkan...
Di SD ini, setiap saat akan bagi raport,,,
Siswa akan bersiap² membawa kado untuk guru²nya...

Ya Kado.
Sebuah hadiah kecil sbg ucapan terimakasih dari siswa ke guru.

Hal tsb memang sangatlah menyenangkan bagi wali kelasnya tetapi tidak dengan guru mapelnya.

Hmm,,,
Sungguh miris bukan, bahkan lebih menyakitkannya. Guru kelas seakan² menutup mata mengenai hal tsb. Dan bepura² tidak tahu bahwa dalam tugasnya mengajar terdapat guru² mapel lain yang ikut membantunya mengajar.

Hmm...
Sudahlah, mungkin memang harus sprt ini...

Saya tidak dapat berkata apa² lagi...

Selasa, 23 Juni 2020

Semua agama salah?

Untuk apa aku bertahan pada agama ini
Namun pada akhirnya semua manusia tak ada yang menurutinya
Untuk apa aku bertahan pada agama ini
Jika tetap ada manusia yang menyelewengkannya
Aku tahu agama ada untuk kebaikan
Tapi aku tahu juga agama ada hanya sebagai identitas palsu.
Terkadang aku bertanya2.
Apa yang mengharuskan kita memiliki agama?
Mengapa kita harus beragama?
Siapa yang mengharuskan kita untuk memiliki agama?

Setiap manusia memiliki hak masing2 untuk menentukan agamanya sendiri.
Ketika merasa tak cocok, kita bisa berpindah ke agama lain.
Tetapi bagiku apapun agamanya tetap sama saja.
Tetap tidak bisa mengatur pengikutnya agar bertindak benar.
Selalu saja ada pengikut yang salah.

Jadi mungkin lebih baik tak usah memiliki agama apapun.
Tak usah percaya pada apapun.
Karena pada akhirnya kau tetap tidak mendapatkan apa2 dengan mempercayai sebuah agama

Jumat, 19 Juni 2020

Kepribadian, topeng dan cara (Untukmu yang memiliki amanah)

Semua manusia memiliki kepribadian masing-masing.
Semua manusia memiliki topeng mereka masing-masing.
Semua manusia memiliki cara mereka masing-masing.

Ada kepribadian manusia yang buruk.
Ialah mereka yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan.
Ada juga yang baik.
Ialah mereka yang berjalan lurus tanpa harus melihat kekiri dan kenanan.
Tetapi ada juga mereka yang seperti air.
Hanya mengikuti arus kemanapun ia membawa.

Semua manusia memiliki topeng.
Topeng tersenyum untuk menunjukkan mereka bahagia.
Topeng sedih untuk menunjukkan kepada orang2 mengenai hati yang tersakiti.
Topeng datar untuk menunjukkan kepada mereka bahwa pikirannya sedang kosong.

Namun dibalik semua itu ada hal yang harus diketahui!
Tidak semua manusia menggunakan topeng itu sesuai dengan porsinya.
Karena ada juga manusia yang menggunakan topeng itu untuk mengambil kesempatan pada orang lain.

Topeng sedih dan menangis yang digunakan mereka untuk berpura2 agar kesalahan mereka dapat terampuni.
Topeng tersenyum yang digunakan mereka untuk menutupi kesedihan hatinya.
Topeng datar yang digunakan mereka untuk menunjukkan ekspresi ketidaksukaan terhadap orang lain.

Hmm...
Suka miris bukan?
Manakah topengmu?

Lalu untuk kalian yang memiliki amanah.
Cara apa yang akan kamu lakukan?
Apakah kamu termasuk orang yang menggunakan cara lurus?
Dengan melayani semua orang dengan ikhlas.
Dengan melayani semua orang tanpa harus melihat status mereka.
Dengan melayani semua orang tanpa harus bercekcok dengan mereka.

Ataukah kau termasuk orang yang menggunakan cara menyimpang?
Dengan meminta bayaran setiap tupoksi yang seharusnya kamu lakukan.
Dengan menjilat orang lain agar kamu mendapatkan apa yang kau inginkan.
Mungkinkah dengan berpura2 baik agar kebusukanmu tertutupi.

Hei...
Ingat tugasmu.
Kau bukan bos.
Kau juga bukan direktur.
Kau hanya orang yang diberi amanah.
Jalankan amanahmu sesuai porsinya.
Tak usah berlebih dan tak usah dikurangi.

Jadilah manusia yang lurus saja atau setidaknya yang biasa.
Kita semua sama pada dasarnya.
Hanyalah manusia boneka yang dikendalikan oleh sang pencipta.
Yang mana nantinya akan sama2 menghadap kepada sang pencipta.
Justru yang harus sama2 kita lakukan adalah mengumpulkan pahala sebanyak2nya.
Itu saja.

Minggu, 05 April 2020

Putih

Berdiriku disebuah ruangan sepi senyap.
Kulihat sebuah kursi kosong.
Mataku tak henti menatap ke arah kursi tsb.
Untuk apa kursi itu?
Sedikit demi sedikit kaki ini kulangkahkan.
Hingga akhirnya aku pun duduk di atas kursi tsb.
Detik demi detik berlalu.
Kesunyian ini membuatku stress.
Tetapi aku tak tahu apa yang bisa kulakukan.
Akhirnya aku pun tertidur.

Kubuka mataku perlahan-lahan.
Aku melihat sebuah kursi lainnya.
Tepat 7 langkah dihadapanku.
Kupandangi sekitarku.
Putih.
Hanya ada warna putih yang dapat kulihat.
Hatiku bertanya.
Apa ini?
Tempat apa ini?
Untuk kedua kalinya aku terdiam.
Aku hanya melamun hingga aku tertidur.

Tok tok tok
Tok tok tok
Dentang jam berbunyi.
Kali ini aku bangun dengan sesuatu yang berbeda.
Aku melihat seseorang yang sedang tersenyum.
Dan aku hanya terdiam.
Perlahan ia mendekatiku.
Awalnya aku sedikit menghindar.
Tetapi ia selalu berusaha mendekatiku.

Selama berhari2 aku terkurung bersamanya.
Ku lihat kali ini ia membawa kuas dan cat.
Ia mewarnai setiap jengkal dinding di ruangan ini.
Sehingga semuanya berwarna.
Tak ada lagi warna putih sejauh mata memandang.
Timbullah sebuah perasaan aneh.
Untuk pertama kalinya aku merasakan rasa itu.
Apakah rasa ini hadir karenanya?
Ataukah rasa ini hadir begitu saja?
Entahlah
Aku pun tak tahu.

Semakin hari, rasa ini semakin kuat.
Sehingga aku pun nyaman dengan hal ini.
Aku mencoba mendekatinya.
Tetapi semakin aku mendekat.
Semakin ia menjauh.
Berhenti!
Teriakku...
Tolong jangan pergi!
Aku pun mengejarnya dengan kencang.
Tetapi ia semakin jauh
Jauh
Jauh
Lalu menghilang.

Seketika semua berubah kembali.
Putih.
Putih.
Dan tak ada warna lain selain putih.
Kini aku berdiri di titik awal.
Dimana tatapanku hanya tertuju pada sebuah kursi kosong.
Aku pun duduk kembali dikursi itu.
Tik tok
Tik tok
Aku pun tertidur.
Dengan membawa harapan.
Agar semuanya terulang kembali.

Kamis, 02 April 2020

Nasib Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Seandainya saya memiliki jabatan yang lebih tinggi...
Insyaallah saya takkan menjadi mereka....
Mereka yang menggunakan jabatan dengan seenaknya...
Mereka yang menggunakan jabatan tanpa memikirkan nasib dari rakyat kecil...
Mereka yang menggunakan jabatan untuk sebuah kepentingan pribadi...
Saya memang tak memiliki kekuasaan seperti mereka...
Saya memang tak memiliki jabatan seperti mereka...
Maka dari itu, tolong!
Tolong pikirkanlah nasib kami!
Nasib orang-orang yang lebih rendah daripada kalian...
Ada banyak sarjana pendidikan yang menganggur di negeri ini...
Ada banyak juga sarjana pendidikan yang menjadi tenaga honorer dengan gaji yang rendah...
Kemarin Maret 2019 saya mendaftar sebagai tenaga pendidik honorer di kota Palembang.
Tetapi apalah daya, tepat dengan masuknya saya, pemerintah membuat peraturan untuk tidak lagi menerima tenaga pendidik honorer.
Saat itu kepala sekolah mengatakan "maaf, kamu tetap saya terima tetapi hanya sebagai guru sukarelawan bukan seperti guru2 lain yang sudah terdaftar namanya di dapodik pemerintah".
Dengan berlapang dada saya menerima tawaran tersebut.
Selama 10 bulan saya masih mendapatkan upah dari sekolah yang menerima saya.
Lalu memasuki tahun ajaran baru, pemerintah mengeluarkan kembali peraturan bahwa hanya guru yang memiliki NUPTK lah yang mendapatkan upah atau gaji.
Aku menjadi semakin bingung dengan perarturan tersebut, di dalam benakku aku berpikir, "bagaimana mungkin saya bisa mendapatkan NUPTK sedangkan saya sendiri tidak bisa mendapatkan SK pengangkatan dan terdaftar di dapodik".
Kemudian hari yang ditunggu oleh tenaga pendidik honorer pun tiba. Selama 4 bulan kami menunggu upah. Di dalam hati saya bergumam, apakah saya akan mendapatkan upah?
Kepala sekolah mengumpulkan kami semua. Ia menjelaskan mengenai upah yang kami dapatkan. Dan benar saja, semua tenaga pendidik yang memiliki NUPTK mendapatkan gaji.
Sedangkan saya yang hanya sebagai tenaga guru sukarelawan tidak lagi mendapatkan upah atau gaji sebagaimana guru-guru lainnya.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
Semua terjadi hanya karena saya tak memiliki kekuasaan...
Semua terjadi hanya karena saya tak memiliki jabatan...
Oh Tuhan...
Andai saya dapat seberuntung mereka yang lebih dahulu mendaftar sebagai tenaga pendidik honorer.
Andai saya dapat seberuntung mereka yang lebih dahulu lahir ke dunia.
Mungkin sekarang saya takkan meratapi nasib seperti ini....

Senin, 25 November 2019

Keresahan di Hari Guru...

Hanya ingin menyampaikan keresahan yang ada di dalam hati...
Selama yang saya perhatikan...
Setiap ada suatu perayaan...
Pasti guru mata pelajaran, selalu dikesampingkan...
Apa bedanya antara guru kelas dengan guru matpel...?
Mengapa ada kesenjangan di antara mereka...?
"Anak2 besok bawa bunga membeli kue dll untuk memperingati hari guru..."
Siapa yang akan di kasih, tentunya guru kelas...
"Anak2 besok bagi raport", siapa yang akan dikasih guru kelas...
Yaa... mungkin guru mapel hanya mengajarkan 1 mata pelajaran dan tidak setiap hari mereka bertatap muka dengan murid2nya...
Lalu apakah hal tersebut yang membuatnya berbeda...?
Tidakkah hal tersebut terasa menjadi tak adil...?
Mengapa harus ada kesenjangan...?
Selain itu, bagi guru kelas yang mendapatkan semua itu, tidakkah terbersit sedikit saja di dalam hati mereka mengenai guru2 matpel yang secara tidak langsung telah berkontribusi membantu mereka dalam mengajar dan memberikan evaluasi serta penilaian...
Hmm, saya rasa hanya sedikit bahkan satu orang yang menyadari itu...
Bukan maksud saya berharap akan semua hal tersebut.
Hanya saja, coba sedikit saja berpikir seperti itu.
Pastilah takkan tercipta sebuah kesenjangan di antara guru kelas dan matpel...
Hanya menyampaikan keresahan...